SEARCH

Showing posts with label Rumah Sumber Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Rumah Sumber Kehidupan. Show all posts

MERANCANG RUMAH BERNAFAS




Istilah "bernafas" ini begitu populer digelarkan oleh hampir setiap kita pada desain yang "lega", "luang" dan memiliki sirkulasi sempurna.


Ada beberapa faktor yang bisa menjadikan rumah anda bernafas dengan lega,diantaranya :


SATU
Bukaan sirkulasi udara yang memadai bisa berupa jendela, open space, bovenlight, transom atau sejenisnya.


DUA
Luangkan waktu untuk memikirkan tempat "angin-angin" atau ventilasi di manapun sekehendak hati anda selama tak mengganggu estetika dan fungsi bangunan secara keseluruhan.


TIGA
Hadapkan bukaan itu searah dengan kecenderungan angin berhembus. Cara sederhana yang bisa anda tempuh adalah observasi keseharian yang bisa anda rasakan secara alami.

RUMAH SUMBER KEHIDUPAN


Judul awal yang sebenarnya ingin saya tuliskan adalah "KETIKA KAUM MUSLIMIN BERSATU".

Namun, judul itu terlampau ekstrim untuk dilanjutkan. Padahal bahasan yang akan saya utarakan hanyalah sesuatu yang sangat sederhana.


Domisili saya adalah sebuah perumahan "MEWAH" alias MEPET SAWAH, yang dikelilingi oleh fasilitas luxury layaknya hidup di apartemen pribadi, lengkap, asri, memenuhi standard kebutuhan hunian masa kini dan banyak lagi kelebihan-kelebihan yang tak dimiliki pemukiman lain..... "di kelasnya !!!!.



Tapi rupanya,..itu hanyalah tulisan di atas brosur pemasaran. Alias TEORI, BOHONG-BOHONGAN, mbuju'i, atau apa sajalah istilahnya.



IDEALNYA adalah Sarana pendidikan TK hingga SLTA, sarana ibadah, jaminan keamanan, kebutuhan air bersih, komunikasi, fasilitas olahraga, penghijauan dan setumpuk teori-teori pemukiman dan lingkungan yang "anak kecil juga tau"!!!!



FAKTANYA adalah, sarana pendidikan cari sendiri-sendiri, keamanan pamswakarsa, air bersih kelihatannya tapi kenyataannya "mungkin tidak", komunikasi lancar pake teriak, penghijauan kalo lagi jemur karpet hijau di halaman depan atao belakang dan sholat berjamaahnya kadang di bawah pohon, kadang di lapangan terbuka. Kalau yang saya sebutkan terakhir ini, kata developer itu lebih mendekati sunnah Rosul. Karena Rosul dulunya lebih banyak melakukan sholat di padang pasir ketimbang di lantai-lantai marmer yang mahal.



Stigma negatif itulah rupanya, yang ingin dilepaskan satu per satu oleh seluruh kaum muslimin di perumahan saya. Yang punya ember di rumah bawa ember, yang punya pacul bawa pacul, yang punya batu bata bawa batu bata, yang punya duit bawa duit kemudian ramai-ramai mereka berucap "ikrar",...mushollah di sini harus berdiri sebelum bulan Ramadhan tiba,....mari kita berdo'a bersama-sama,....Kata teman saya, tapi tidak cukup dengan do'a pak ustad,...ayo kita gali pondasinya dan kita tancapkan batu kalinya satu persatu,...baru kalau waktu dhuhur telah sampai kita sholatnya bergantian dan selesai sholat itulah kita berdo'a...Tapi jangan lupa ke sini lagi untuk melanjutkan kerja baktinya".



ALHAMDULILLAHI ROBBIL AALAMIIN



Maha Suci Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang.



Tak mengenal warga, bukan warga, tamu, sanak saudara, teman, sahabat, handai tolan, orang lewat,....semuanya mengulurkan tangan (tentunya tangannya ada isinya)...hingga pelan tapi pasti tibalah saatnya hari pertama bulan suci Ramadhan dan "ternyata" belum selesai juga minimal plesteran yang sekiranya bisa diduduki dengan sedikiti nyaman saat tasyahud.



Saya coba mengabadikan "detik-detik" kurang mengenakkan itu, karena semua lagi mengangkut tanah padahal tak semuanya tau bahwa semen yang mau dipakai belum tersedia. Subhanalloh !!!! Apa yang terjadi selanjutnya, Alloh mutlak pembolak balik hati setiap makhluk. Nyatanya ada seorang hamba yang bertanya : "Mas, kenapa tidak langsung di rabat ?"....Saya jawabnya polos,.."semennya belum ada pak!". "Belum datang ?, lanjutnya.. "Bukan belum datang pak, tapi memang belum beli karena uangnya habis"...Masya Alloh, kenapa sampeyan tidak bilang dari tadi..., kira butuh berapa ?

Saya jawab, "paling 6 zak juga kelar pak !"...Kalau begitu langsung mas, ambil langkah seribu sebelum saya habis kesabaran,...maksudnya langkah seribu, segera beli semen,..ayo cepetan....


Cerita ini saya tuliskan, tak lebih hanya bahwa "ketika kaum muslimin bersatu", segala sesuatu pasti ada solusinya.



























Masukkan alamat email anda untuk menjadi anggota forum ini