
Pada edisi terdahulu, kita pernah membahas tentang pasar tradisional yang sejarahnya berawal dari satu di antaranya adalah penjual es poteng.Es poteng ini sangat populer di Makassar, kalau di Jawa semacam penjual es campur-lah kira-kira.
Fenomena menarik dari eksistensi pasar tradisional era kini adalah stigma negatif yang "KUMUH" terhadap pasar-pasar tradisional kita. Betapa tidak, setiap melangkahkan kaki ke gerbang pasar-pasar itu maka yang terpampang di depan mata adalah becek, kumuh, penuh sampah, bau, apek dan segudang kekurangannya.

Ada 3 hal pokok yang mengokohkan stigma kumuh pasar tradisional :
PERTAMA
Tidak tersedianya tempat sampah yang cukup
KEDUA
Tidak tersedianya pengelola pasar yang profesional
KETIGA
No comments:
Post a Comment