SEARCH

Loading...

"KUMUH"NYA ARSITEKTUR PASAR TRADISIONAL























Pada edisi terdahulu, kita pernah membahas tentang pasar tradisional yang sejarahnya berawal dari satu di antaranya adalah penjual es poteng.Es poteng ini sangat populer di Makassar, kalau di Jawa semacam penjual es campur-lah kira-kira.



Fenomena menarik dari eksistensi pasar tradisional era kini adalah stigma negatif yang "KUMUH" terhadap pasar-pasar tradisional kita. Betapa tidak, setiap melangkahkan kaki ke gerbang pasar-pasar itu maka yang terpampang di depan mata adalah becek, kumuh, penuh sampah, bau, apek dan segudang kekurangannya.

Di tambah lagi dengan maraknya swalayan bersanding dengan pasar tradisional itu yang seolah berkompetisi dan tentunya kita semua sudah mengetahui pemenangnya. Kenapa ? Karena kumuhnya pasar-pasar "rakyat" ini tetap melekat dan tak mampu bersaing dengan kinclongnya swalayan,supermarket, hypermarket di sebelahnya.

Ada 3 hal pokok yang mengokohkan stigma kumuh pasar tradisional :

PERTAMA
Tidak tersedianya tempat sampah yang cukup

KEDUA
Tidak tersedianya pengelola pasar yang profesional

KETIGA
Liar dan ilegalnya pedagang pasar. Sederhananya begini, identitas pedagang pasar sangat tradisional berdasarkan keakraban.

No comments:

Post a Comment

Masukkan alamat email anda untuk menjadi anggota forum ini